www.indofakta.id – Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama ke-14, kini sedang mempersiapkan pencarian penggantinya, yang akan menjadi Dalai Lama ke-15. Dalam suatu pernyataan, ia dengan tegas menyampaikan bahwa siapa pun yang akan menggantikannya harus bebas dari intervensi pemerintah China.
Melalui sebuah rekaman video, Dalai Lama menegaskan bahwa hanya yayasan yang ia dirikan, Gaden Phodrang Trust, yang berhak mencari dan mengakui reinkarnasinya di masa mendatang. Ia menyatakan bahwa pemerintah China tidak akan memiliki peran dalam penunjukan tersebut.
Dilihat dari latar belakangnya, pernyataan ini menggambarkan ketegangan yang telah lama ada antara Tibet dan China. “Tidak ada pihak lain yang memiliki kewenangan untuk mencampuri masalah ini,” ujar Dalai Lama dalam sambutannya di Dharamshala, yang menjadi pusat pemerintahan Tibet di pengasingan.
Dalai Lama ke-14, yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-90 pada 6 Juli nanti, telah menyatakan bahwa ia mungkin orang terakhir yang maju dalam garis suksesi. Namun, setelah berkonsultasi dengan pemimpin spiritual senior serta mendengarkan harapan masyarakat Tibet, ia berubah pikiran.
“Sesuai dengan permintaan ini, lembaga Dalai Lama akan terus berlanjut,” ujar Dalai Lama kepada komunitas biksu senior. Ia juga menjelaskan bahwa ia akan meninggalkan instruksi tertulis mengenai proses pencarian reinkarnasi berikutnya.
Proses Pencarian dan Pengakuan Reinkarnasi Dalai Lama ke-15
Pengganti Dalai Lama ke-14 diharapkan akan lahir di negara yang bebas, yang bisa jadi mencakup diaspora Tibet yang saat ini berjumlah sekitar 140 ribu orang, dengan separuhnya berada di India. Ini menandakan bahwa reinkarnasi yang diharapkan bisa muncul dari komunitas yang kini hidup di luar Tibet.
Dalai Lama juga menungkapkan bahwa reinkarnasinya bisa saja seorang wanita atau individu yang sudah dewasa, menekankan bahwa tidak ada batasan tradisional yang kaku. Pemimpin kedua tertinggi dalam lembaga tersebut, Lobsang Tenzin, juga mengkonfirmasi bahwa lembaga Dalai Lama akan berlanjut dengan pencarian ke depan.
“Akan ada Dalai Lama ke-15 dan ke-16,” ujar Tenzin, dalam wawancara pers yang dilakukan di Dharamshala. Ia menegaskan, akan ada instruksi rinci yang dikeluarkan tentang bagaimana proses pencarian reinkarnasi selanjutnya harus dilakukan.
Respon Kuat dari Pemerintah China Mengenai Penunjukan Dalai Lama ke-15
Menanggapi pernyataan Dalai Lama, pemerintah China langsung memberikan tanggapan pedas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa reinkarnasi Dalai Lama seharusnya melalui proses pengundian yang ditetapkan pemerintah pusat.
Dalam pandangan mereka, praktik tradisional yang dilakukan sepanjang sejarah mengenai reinkarnasi di Tibet hanya boleh dilakukan dalam kerangka hukum China. Mereka menyatakan bahwa Buddhisme Tibet lahir dan berkembang di China, menjadikannya bagian dari keunikan budaya negara tersebut.
Sementara itu, perwakilan parlemen Tibet di pengasingan menganggap penting untuk mendengar suara Dalai Lama secara langsung. Mereka berpendapat bahwa China berusaha menciptakan stigma negatif terhadap Dalai Lama setiap kali ada kesempatan, guna mengontrol proses penunjukan penggantinya.
Dampak Ketegangan antara China dan India Terkait Suksesi Dalai Lama
Ketegangan mengenai suksesi ini sangat mempengaruhi hubungan antara China dan India. India telah memberikan suaka kepada Dalai Lama ke-14 setelah ia melarikan diri dari Tibet di tengah aneksasi wilayah tersebut oleh China. Saat ini, lebih dari 100 ribu warga Tibet tinggal di pengasingan di India.
Delhi sendiri secara resmi mengakui Tibet sebagai bagian dari China, tetapi tetap mengizinkan pemerintah Tibet di pengasingan beroperasi dari Dharamshala. Ini menambah kompleksitas permusuhan antara kedua negara dalam konteks geopolitik yang lebih luas.
Dalai Lama ke-14, yang bernama asli Tenzin Gyatso, melarikan diri dari Tibet pada umur 23 tahun. Sejak ia tiba di India pada 31 Maret 1959, setelah kekacauan di Lhasa, ia dapat melanjutkan hidupnya dalam perlindungan dan perawatan yang baik selama 65 tahun.
Keyakinan Terkait Reinkarnasi dalam Tradisi Budaya Tibet
Umat Buddha Tibet berkeyakinan bahwa Dalai Lama saat ini adalah manifestasi dari Avalokiteshvara, simbol kebijaksanaan dan kasih sayang. Mereka percaya bahwa sosok tersebut memiliki peran vital dalam membimbing orang-orang di jalan menuju pencerahan spiritual.
Menurut tradisi yang ada, saat ini hanya Dalai Lama atau individu yang ditunjuk olehnya yang bisa mengidentifikasi penggantinya. Proses ini dilakukan melalui pengamatan, serta konsultasi dengan para lama senior dan pelindung agama yang terlibat.
Pemerintah China memiliki pandangan berbeda mengenai reinkarnasi Dalai Lama. Mereka meyakini bahwa prosedur pengundian menggunakan guci emas adalah satu-satunya cara yang sah untuk mengakui reinkarnasi, yang telah dilakukan sejak Dinasti Qing.
Amerika Serikat juga telah berkomitmen untuk menjaga kebebasan beragama di Tibet melalui Undang-Undang Kebijakan dan Dukungan terhadap Tibet, yang memberikan sanksi kepada pihak yang mengintervensi proses pencarian reinkarnasi Dalai Lama. Dukungan telah datang pula dari Uni Eropa dalam membela kebebasan beragama, meskipun belum ada posisi yang permanen mengenai isu reinkarnasi.
Dalai Lama ke-14 sendiri pernah berkomentar bahwa ia mungkin bereinkarnasi sebagai individu dari luar Tibet, mengisyaratkan bahwa reinkarnasinya bisa berupa sosok yang tak terduga. Walaupun demikian, ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa tidak ada lagi reinkarnasi setelah dirinya.


