www.indofakta.id – Sejumlah tokoh aktivis hadir dalam sebuah acara Sarasehan Aktivis Lintas Generasi yang digelar pada 21 Mei 2025 dengan mengangkat tema penting bernama “Dari Demokrasi Politik Menuju Transformasi Demokrasi Ekonomi”. Dalam forum tersebut, para aktivis lintas generasi menekankan perlunya mendorong reformasi menuju transformasi struktural yang lebih substansial.
Acara ini menjadi sarana berbagi pandangan antara generasi tua dan muda, menggugah pemikiran tentang masa depan demokrasi di Indonesia. Apa saja tantangan yang harus dihadapi dalam mencapai cita-cita demokrasi ekonomi?
Transformasi Struktural untuk Capaian yang Lebih Baik
Akademisi Universitas Komputer Indonesia, Wim Tohari Daniealdi, menegaskan pentingnya agenda reformasi melampaui capaian politik formal guna mencapai transformasi yang lebih substantif. Dalam sarasehan ini, ia mengingatkan bahwa refleksi terhadap sejarah perjalanan reformasi sangat diperlukan agar generasi muda dapat memahami konteks kebangkitan demokrasi saat ini.
Dalam pandangannya, dorongan untuk merubah arah reformasi bukan sekadar ajakan moral, tetapi merupakan tuntutan historis untuk mengarahkan semangat reformasi kepada penegakan demokrasi ekonomi sesuai dengan amanat konstitusi. Usia reformasi yang mencapai 27 tahun menjadi pengingat bahwa sebuah sistem perubahan harus terus dievaluasi agar tidak kehilangan arah dan tujuan.
Perjuangan Menuju Keadilan Ekonomi
Wim melanjutkan, meskipun reformasi telah berhasil menggulingkan rezim otoriter dan membuka ruang bagi demokrasi, cita-cita kerakyatan belum sepenuhnya terwujud. Dalam 27 tahun perjalanan, reformasi 1998 tidak hanya mereformasi fondasi politik, tetapi juga membuka peluang bagi partisipasi publik, desentralisasi, serta kebebasan berekspresi.
Namun, ia mencatat bahwa demokrasi yang ada saat ini cenderung bersifat prosedural dan kurang menghadirkan keadilan ekonomi yang setara. Euforia demokrasi politik seiring waktu malah menjauh dari cita-cita kerakyatan yang diidamkan oleh banyak orang, dan menunjukkan adanya kesenjangan antara reformasi politik dan transformasi sosial-ekonomi.
Wim menekankan pentingnya mengakui fakta bahwa dalam dua dekade terakhir, demokrasi di Indonesia seakan berjalan beriringan dengan neoliberalisme. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pasca-reformasi seringkali terpaksa dilakukan akibat tekanan dari lembaga-lembaga internasional, yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomis di atas keadilan sosial.
Lebih jauh, ia menarik perhatian dengan data dari World Bank tahun 2023 yang menunjukkan bahwa kekayaan nasional terdistribusi tidak merata. Tercatat, 1 persen penduduk terkaya menguasai hampir 50 persen dari total kekayaan nasional, sedangkan lebih dari 9 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan.
Sementara itu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sekitar 130 juta orang di Indonesia bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak stabil. Kondisi ini menggambarkan betapa liberalisasi ekonomi telah menciptakan ketergantungan, bukan kemandirian bagi masyarakat.
Wim juga menggarisbawahi bahwa sektor-sektor penting seperti pertambangan dan energi kini dikuasai oleh perusahaan asing yang berfokus pada keuntungan semata. Alih-alih menciptakan kemandirian, liberalisasi justru semakin memperkuat ketergantungan Indonesia terhadap kekuatan ekonomi global.
Penting untuk menyadari bahwa saat ini, produk-produk hulu dari Indonesia yang diekspor terus dalam bentuk mentah dan bukan dalam bentuk barang jadi. Sementara industri manufaktur dan teknologi masih lambat berkembang, ketahanan pangan kita juga melemah. Ini terlihat dari lonjakan nilai impor bahan pangan yang mencapai angka yang mengkhawatirkan.
Secara keseluruhan, Sarasehan Aktivis Lintas Generasi ini memberikan gambaran bagaimana perjalanan reformasi telah membawa kita sampai saat ini, serta tantangan-tantangan yang perlu dihadapi dalam menciptakan keadilan ekonomi di tanah air. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat, baik generasi muda maupun tua, menjadi kunci dalam memajukan agenda reformasi ke arah yang lebih baik dan lebih adil.
Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk terlibat dalam diskusi-diskusi mendalam dan edukatif, sehingga upaya kita menuju transformasi demokrasi ekonomi bisa tercapai dengan lebih nyata. Momen reflektif semacam ini tidak hanya membantu mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk generasi mendatang.


