www.indofakta.id – Wacana pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional kembali memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Banyak yang menganggap langkah ini sebagai upaya untuk menghapus jejak kelam sejarah dan memuluskan citra pelanggaran yang terjadi selama kepemimpinannya.
Salah satu aktivis pergerakan mahasiswa, Savic Ali, menyatakan bahwa pengusulan ini merupakan bentuk ‘whitewashing’ terhadap tindakan dan kebijakan represif Soeharto. Ia menambahkan bahwa proses penetapan Soeharto sebagai pahlawan hanya akan mereduksi legitimasi kritik terhadap masa Orde Baru.
Savic berpendapat bahwa jika Soeharto diberi gelar pahlawan, maka semua tudingan tentang sifat tiran dan korup yang melekat padanya akan dianggap tidak sah. Hal ini bisa membuat masyarakat lupa akan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di era tersebut.
Tantangan Sejarah dalam Menilai Peran Soeharto
Di tengah perdebatan yang berlangsung, banyak yang mempertanyakan apa yang sebenarnya terkandung dalam proses pengusulan ini. Savic menegaskan bahwa pengangkatan kembali Soeharto sebagai pahlawan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik yang ada saat ini.
Ia mencatat keterlibatan partai politik, khususnya Golkar, dalam menggulirkan wacana ini. Dengan latar belakang militer, Presiden Prabowo juga dianggap memiliki kepentingan untuk mengembalikan citra Soeharto sebagai simbol kekuatan.
Lebih lanjut, Savic menyatakan bahwa kekuasaan yang ada saat ini seolah dimanfaatkan untuk memanipulasi sejarah demi kepentingan politik. “Mereka ingin mengukuhkan narasi bahwa kepemimpinan Soeharto memiliki nilai positif,” ujarnya.
Pentingnya Mempertahankan Keadilan Sejarah
Savic mengingatkan bahwa sejarah sering ditulis oleh mereka yang berada di puncak kekuasaan. Dalam konteks ini, ada keprihatinan bahwa pengabaian terhadap kejahatan masa lalu akan memperburuk luka sejarah bangsa dan merusak keadilan bagi para korban.
“Sejarah itu ditulis oleh pemenang,” katanya. Ini menunjukkan bagaimana narasi yang salah dapat dengan mudah dikonstruk untuk kepentingan tertentu.
Savic juga menegaskan bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di era Soeharto tidak bisa diabaikan atau dimaafkan. Ia mengingatkan bahwa banyak nyawa hilang akibat kebijakan yang represif dan tidak manusiawi pada masa itu.
Masyarakat dan Tanggung Jawab Mempertahankan Memori Sejarah
Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam wacana ini, tetapi juga berperan aktif dalam mempertahankan kebenaran sejarah. Kesadaran akan pentingnya mengenang masa lalu harus menjadi bagian dari pendidikan dan diskursus publik.
Penolakan terhadap pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional harus disertai dengan edukasi mengenai pelanggaran yang terjadi selama kepemimpinannya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang tetap waspada terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Menurut Savic, memori kolektif masyarakat harus dipertahankan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap korban yang mengalami pelanggaran di masa lalu. “Kita tidak boleh lupa akan sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkapnya.
Pendapat ini mencerminkan kerinduan masyarakat akan keadilan dan kebenaran yang sering kali diabaikan oleh kekuasaan yang mapan. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam ilusi bahwa kejahatan sejarah dapat dihapus begitu saja dengan gelar yang tidak pantas.
Bagaimanapun juga, penilaian sejarah mesti berjalan dengan adil dan objektif, tanpa pengaruh dari kepentingan politik yang sempit. Merayakan seorang pemimpin yang berkontribusi pada pelanggaran hak asasi manusia hanya akan menambah beban kesedihan di tengah masyarakat.
Dengan mempertahankan prinsip keadilan dalam sejarah, kita dapat menciptakan ruang bagi dialog yang konstruktif dan mendorong perubahan positif di masa depan. Rasa tanggung jawab terhadap memori sejarah harus ditanamkan pada setiap individu, khususnya generasi muda, agar tragedi serupa tidak terulang.


