www.indofakta.id – Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, mengungkapkan betapa kompleksnya posisi Iran dalam tataran geopolitik global. Ia menyatakan bahwa Iran memiliki berbagai faktor strategis yang membuatnya sulit untuk dihancurkan oleh kekuatan militer mana pun, termasuk Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah webinar bertajuk “Setelah Venezuela, Iran & Greenland: ‘Siapa’ Target Selanjutnya”, Reza menggarisbawahi bahwa Iran memiliki ketahanan yang kukuh berakar pada sejarah dan jaringan sosial yang kuat. Para pemimpin Iran, menurutnya, menjaga semangat kebangsaan melalui kesadaran akan warisan historis yang didukung oleh masyarakatnya.
Reza menambahkan bahwa keberadaan Iran sebagai salah satu pusat peradaban awal, sebanding dengan peradaban besar lainnya seperti China dan Romawi, memberikan titik tolak penting dalam membangun identitas nasional yang kuat. Hal ini tercermin dalam upaya pemerintah dan masyarakat untuk menjaga marwah bangsa dan kemandirian nasional.
Faktor Sejarah dan Identitas Bangsa Iran yang Kuat
Satu poin kunci yang diangkat oleh Reza adalah bahwa kepemimpinan di Iran dihormati dengan penuh cinta oleh rakyatnya. Pemimpin Iran dianggap sebagai teladan ideologis yang berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus bersikap tegas terhadap dominasi asing.
Dalam konteks ini, masyarakat Iran menunjukkan rasa kesatuan yang tinggi, di mana setiap langkah pemerintah mendapatkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Keberlanjutan kebijakan nasional yang menekankan perlawanan terhadap intervensi asing semakin menguatkan legitimasi kepemimpinan di mata rakyat.
Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa kekuatan militer Iran merupakan aset lain yang menambah daya tawar Iran di kancah internasional. Iran telah berkembang menjadi kekuatan militer yang mandiri, dengan teknologi pertahanan yang banyak dikembangkan di dalam negeri dan tanpa ketergantungan pada negara lain.
Kekuatan Militer Iran dan Potensi Strategisnya di Kawasan
Iran memiliki teknologi peluru kendali yang bervariasi untuk berbagai jarak, memungkinkan mereka untuk merespons ancaman dengan cepat. Menurut Reza, kemampuan ini tidak hanya penting untuk pertahanan nasional, tetapi juga berfungsi sebagai pesan strategis bagi negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.
Latihan militer yang rutin dilakukan oleh Angkatan Laut Iran di perairan strategis semakin menambah ketegangan yang ada. Dengan potensi untuk melakukan blokade terhadap Selat Hormuz jika terjadi konflik terbuka, Iran berpotensi menciptakan dampak yang signifikan bagi perdagangan energi global.
Reza melanjutkan bahwa dalam skenario serangan yang dipimpin oleh AS, tindakan balasan Iran dapat bersifat masif, tergantung pada bagaimana negara-negara Teluk merespons. Ketegangan ini menciptakan lingkungan yang penuh risiko bagi semua pihak yang terlibat.
Kewaspadaan Negara-Negara Teluk terhadap Iran dan Respons Balasan
Negara-negara Teluk saat ini berada dalam kondisi kewaspadaan tinggi mengenai kemungkinan balasan dari Iran. Pengalaman sebelumnya mengajarkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu reaksi yang tidak terduga dan merusak stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Reza mengingatkan bahwa dalam konflik yang singkat di masa lalu, Israel pun merasakan dampak negatif yang cukup signifikan. Dengan persediaan peluru kendali yang besar, Iran memiliki kapasitas untuk menciptakan kerusakan yang luas jika diserang.
Kejadian di masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara besar dalam hal mengambil keputusan strategis. Jika Iran terancam, respon dari pemerintahan tersebut dapat menjadi aspek yang harus diperhitungkan oleh setiap negara yang berniat untuk melancarkan serangan.
Sikap NATO dan Persepsi Geopolitik Terhadap Iran
Alasan kelima yang mencolok, menurut Reza, adalah keengganan negara-negara NATO untuk terlibat dalam serangan langsung terhadap Iran. Pengalaman pahit yang dialami AS nampaknya mengajarkan NATO untuk lebih berhati-hati dalam menentukan sikap menuju Iran.
Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana tekanan ekonomi menjadi alat yang lebih efektif dalam geopolitik daripada aksi militer. Pendekatan ini memungkinkan negara-negara barat untuk menekan Iran tanpa harus terlibat dalam konflik yang bisa berujung pada situasi yang tidak bisa terkendali.
Faktor intelijen juga dicatat sebagai aspek penting dari ketahanan Iran. Kemampuan Iran dalam mendeteksi ancaman dan memantau jaringan lawan, baik dalam negeri maupun luar negeri, menjadi pencegah penting untuk mencegah serangan langsung terhadap negara tersebut.
Melalui semua faktor tersebut, Reza memprediksi bahwa jika AS melakukan tindakan militer, itu kemungkinan hanya dalam skala kecil. Ini mungkin dilakukan sebagai langkah untuk mempertahankan citra di panggung internasional, tetapi dengan kesadaran bahwa serangan besar justru dapat memicu ketidakstabilan yang lebih luas.
Peringatan dari AS untuk tidak melanjutkan program nuklir Iran turut mencerminkan kekhawatiran yang ada. Dalam konteks ini, perseteruan antara kedua negara masih jauh dari titik penyelesaian, dan situasi ini tetap menjadi perhatian bagi analisis geopolitik global yang lebih luas.
Dalam situasi yang terus berkembang ini, penting bagi semua pihak untuk memahami nuansa dan dinamika yang ada, agar kebijakan dan langkah strategis dapat diambil dengan bijaksana.


