www.indofakta.id – Produk cokelat asli dari Bali kembali menunjukkan keberhasilannya di kancah internasional, menjadikan Indonesia semakin dikagumi di mata dunia. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, memberikan pengakuan positif terhadap para petani kakao yang telah berhasil merambah pasar global dengan produk berkualitas tinggi.
Pada kunjungan kerjanya di Tabanan, Bali, pada Jumat (18/7), Titiek menegaskan bahwa potensi kakao Indonesia masih sangat besar untuk diperluas. “Dengan produksi cokelat yang luar biasa, kami adalah salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia, dan saya percaya potensi ini masih dapat ditingkatkan lebih jauh,” ungkapnya.
Ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan ekspor produk kakao tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara, tetapi juga menciptakan banyak lapangan kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, Titiek juga menghargai peran Badan Karantina Indonesia (Barantin) yang berkontribusi dengan aktif memberikan pendampingan dan edukasi untuk mempermudah proses ekspor bagi para petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meningkatnya Minat Pasar Internasional Terhadap Kakao Bali
Kepala Barantin, Saht M. Panggabean, menuturkan bahwa kakao dari Bali semakin diminati di pasar internasional karena khas aroma dan cita rasa yang melekat, ditambah lagi teksturnya yang tidak mudah meleleh. Hal ini menjadikan produk kakao Bali memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen di luar negeri.
Data sertifikasi karantina menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, ekspor kakao Bali mencapai 372,3 ton dengan nilai sekitar Rp1,6 miliar. Produk tersebut diekspor dalam berbagai bentuk, seperti kakao blok, biji, dan bubuk ke sejumlah negara antara lain Irlandia, Jepang, Lithuania, dan Australia.
Dengan prospek yang cerah, ekspor kakao dari Bali semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri cokelat global. Terlebih, keberagaman produk yang ditawarkan membantu memperluas jangkauan pasar dan memberikan pengalaman baru bagi konsumen.
Perusahaan Cokelat yang Menembus Pasar Ekspor
PT Cau Coklat Internasional menjadi salah satu pelopor dalam ekspor kakao Bali ke pasar Australia. Sejak awal berdirinya pada tahun 2014, perusahaan ini fokus pada produksi cokelat dan bisnis agrowisata. Namun, sejak tahun 2018, mereka telah memperluas ragam produk yang ditawarkan menjadi distributor untuk produk non-cokelat.
CEO PT Cau Coklat Internasional, Kadek Surya Prasetya Wiguna, menekankan bahwa kapasitas produksi perusahaan mencapai dua ton per hari. Untuk memperkuat produksi, perusahaan ini menggandeng mitra di Surabaya dan juga membangun gudang penyimpanan di Seminyak dan Tabanan.
Distribusi produk dilakukan melalui jaringan toko oleh-oleh terkenal, termasuk Krisna Oleh-oleh dan Duty Free di bandara. Ini menunjukkan bahwa ada perhatian yang besar untuk menjaga kualitas produk dan memperluas aksesibilitas bagi konsumen.
Peran Agrowisata dalam Memperkuat Ekonomi Lokal
Dalam sektor agrowisata, PT Cau Coklat memanfaatkan kerjasama dengan agen perjalanan, menargetkan wisatawan lokal dan mancanegara. Penawaran ini tidak hanya meningkatkan minat wisatawan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam sektor yang berkembang ini.
Saat ini, perusahaan tersebut mempekerjakan lebih dari 150 tenaga kerja di bidang produksi, pemasaran, dan manajemen. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam industri cokelat juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Kami optimis bahwa bisnis ini akan terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas di masa depan,” tegas Kadek Surya, menekankan komitmen perusahaan untuk berinovasi dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan di industri yang kompetitif ini.


