www.indofakta.id – Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal berpendapat bahwa dunia kini memasuki fase baru dalam dinamika global yang disebutnya sebagai Next World Order. Pernyataan ini disampaikan saat membuka Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 di Jakarta, pada hari Sabtu lalu.
“Dunia sedang berada di ambang tatanan baru. Tatanan dunia berikutnya sudah di depan mata kita,” tegas Dino dalam acara tersebut.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini menekankan bahwa tatanan baru ini tidak sepenuhnya akan menggantikan struktur-struktur lama seperti PBB, ASEAN, dan negara kesatuan Republik Indonesia. “Banyak elemen yang akan tetap ada dan harus dijaga keberadaannya,” imbuhnya.
Dino juga menjelaskan bahwa peralihan menuju tatanan baru saat ini didorong oleh empat faktor utama. Pertama, perubahan dalam distribusi kekuatan global yang semakin tidak merata.
Kedua, ada juga melemahnya sistem berbasis aturan yang mengatur hubungan antar negara. Ketiga, efektivitas institusi multilateral semakin menurun. Dan terakhir, terdapat kecenderungan melenceng dari arah moral yang selama ini menjadi acuan dunia.
Dalam konteks ekonomi global, Dino menggarisbawahi meningkatnya jumlah negara dengan penghasilan menengah dan kelas menengah di seluruh dunia. “Secara statistik, BRICS kini memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) berbasis Paritas Daya Beli (PPP) yang lebih besar dibandingkan dengan G7—40 persen berbanding 28 persen,” jelasnya.
Faktor Keberlangsungan Tatanan Global di Masa Depan
Dino berpendapat bahwa dinamika yang sedang berlangsung saat ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengambil peran strategis dalam tatanan dunia yang baru. “Kekuatan diplomasi Indonesia terletak pada gagasan dan idealisme yang kita perjuangkan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk menjadi salah satu perancang utama dalam tatanan baru dunia. “Kita harus berani mengambil langkah-langkah proaktif dalam pengaturan global ini,” tambahnya dengan keyakinan.
Dengan perubahan besar yang sedang terjadi, Indonesia perlu memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat posisinya di kancah internasional. “Transformasi ekonomi dan kekuatan diplomasi adalah kunci agar kita tidak tersingkir dari persaingan global,” katanya.
Lebih jauh, Dino mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara besar memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. “Ini adalah bagian dari warisan yang harus kita jaga dan kembangkan,” tuturnya.
Peran Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Global
Dalam tatanan dunia baru ini, tantangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin kompleks. “Kita harus bersiap menghadapi ketidakpastian yang mungkin muncul dari perubahan kebijakan besar negara-negara kuat,” kata Dino.
Indonesia, menurutnya, harus aktif berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk menciptakan solusi bersama. “Kerja sama internasional yang solid menjadi sangat penting agar kita bisa saling mendukung dalam menghadapi masalah global.”
Kerjasama dalam bidang ekonomi, lingkungan, dan keamanan menjadi perhatian utama yang perlu dititikberatkan. “Dengan saling menguatkan, kita bisa menciptakan ketahanan yang lebih baik bagi seluruh negara di dunia,” tegasnya.
Dino juga mencatat bahwa ketidakpastian politik di banyak negara dapat mempengaruhi stabilitas global. “Kita perlu merespons dengan bijaksana agar Indonesia tetap menjadi pemain yang diakui di panggung dunia,” katanya.
Perspektif Diplomasi Indonesia di Tengah Pergolakan Global
Dino menyoroti bahwa diplomasi yang efektif adalah kunci untuk menghadapi tantangan ini. “Kita tidak bisa hanya berdiam diri; harus ada strategi yang jelas dalam mengatur hubungan internasional,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi mediator dalam konflik-konflik yang terjadi di dunia. “Peran kita sebagai negara yang berkomitmen pada perdamaian sangat penting, terutama dalam era yang penuh tantangan seperti saat ini.”
Dengan posisi geostrategis yang menguntungkan, Indonesia memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai perantara antara negara-negara besar. “Kami harus memanfaatkan posisi ini untuk memperkuat jaringan diplomasi kita,” tuturnya.
Dalam kesimpulannya, Dino menekankan pentingnya visi jangka panjang bagi Indonesia untuk menyongsong tatanan dunia baru. “Kita harus mampu merancang langkah-langkah yang berani dan inovatif untuk memastikan keberlanjutan peran Indonesia,” ujarnya.
Dengan segala dinamika dan tantangan ini, saatnya bagi Indonesia untuk menjadi suara yang lebih terdengar di kancah internasional. “Kita harus berani mengambil peran, karena inilah saatnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran global,” tutupnya.


