www.indofakta.id – Jakarta, Pimpinan MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno melanjutkan rangkaian acara MPR Goes to Campus. Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menjadi kampus ke-30 dalam rangkaian acara ini yang dimulai sejak November 2024 lalu.
Kehadiran Eddy di Unsrat disambut oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Ir Arthur Gehart Pinaria, serta jajaran rektorat dan pimpinan fakultas di Unsrat. Ini menunjukkan komitmen MPR untuk menjangkau generasi muda dalam berdiskusi tentang isu-isu penting negara.
Dalam paparannya, Eddy menjelaskan alasan di balik pemilihan isu lingkungan dalam diskusi MPR kali ini. Dengan fokus pada hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat, MPR berusaha untuk menekankan pentingnya topik ini di kalangan generasi penerus.
MPR Menyuarakan Isu Lingkungan Hidup kepada Mahasiswa
Eddy menegaskan bahwa kehadirannya di Unsrat bukan hanya sekadar formalitas. Ia ingin mengajak para mahasiswa untuk terlibat aktif dalam diskusi mengenai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini.
“Mungkin jadi pertanyaan teman-teman, kenapa MPR kali ini hadir dengan isu lingkungan hidup, transisi energi, dan solusi mengatasi krisis sampah,” ujarnya. Penjelasan ini membuat mahasiswa semakin penasaran untuk mendalami isu-isu yang diangkat dalam diskusi tersebut.
Dalam konstitusi, khususnya Pasal 28H ayat 1 UUD 1945, jelas menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Hal ini menjadi landasan penting bagi MPR untuk mendorong pembicaraan mengenai isu-isu lingkungan di kalangan masyarakat.
Pentingnya Hak Konstitusional atas Lingkungan Sehat
Lingkungan yang bersih dan sehat diakui sebagai hak konstitusional masyarakat, dan Eddy menekankan bahwa hal ini wajib diperjuangkan. Ia juga mengutip Pasal 33 ayat 4 UUD 1945, yang menyatakan bahwa pembangunan ekonomi harus dilakukan dengan asas keberlanjutan.
“Inisiatif saya di MPR adalah untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap isu lingkungan,” jelasnya. Dengan fokus ini, MPR berharap dapat mendorong kebijakan yang lebih pro-lingkungan dan berkelanjutan.
Diskusi yang berlangsung di Unsrat juga memberikan platform bagi mahasiswa untuk mengemukakan pendapat dan pertanyaan. Eddy menyambut baik antusiasme mahasiswa dalam mengeksplorasi topik ini lebih dalam.
Diskusi Interaktif antara Mahasiswa dan Pimpinan MPR
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa Unsrat menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk bertanya mengenai transisi energi dan kebijakan politik pemerintah. Hal ini mencerminkan kesadaran mahasiswa terhadap isu-isu kebijakan yang relevan dengan lingkungan hidup.
Eddy mengapresiasi aktifnya pertanyaan dari mahasiswa dan civitas akademika Unsrat. “Kampus adalah ruang demokratis dan semua masukan ini adalah feed back penting untuk kebijakan lingkungan yang lebih baik,” tuturnya.
Dialog interaktif semacam ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pimpinan lembaga dan masyarakat akademis. Dengan mendengar langsung dari mahasiswa, diharapkan MPR dapat menyerap aspirasi masyarakat lebih baik.
Mendorong Partisipasi Mahasiswa dalam Isu Lingkungan
Partisipasi mahasiswa sangat penting dalam proses pembentukan kebijakan, terutama soal lingkungan hidup. Eddy mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga berperan aktif dalam memberikan rekomendasi dan solusi terkait isu lingkungan.
“Saya berharap mahasiswa dapat menyusun gagasan dan inovasi untuk menangani masalah lingkungan,” imbuhnya. Secara keseluruhan, acara ini bertujuan untuk menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat.
Selain itu, melalui diskusi ini, diharapkan mahasiswa akan lebih peka terhadap tantangan yang dihadapi lingkungan saat ini. Edukasi dan keterlibatan dalam isu lingkungan adalah langkah awal menuju lingkungan yang lebih berkelanjutan.


