www.indofakta.id – Pemenuhan gizi menjadi isu yang sangat penting untuk setiap negara, termasuk Indonesia. Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, atau yang lebih dikenal sebagai Ibas, menyampaikan pandangannya mengenai hal ini dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2026 dengan tema yang relevan.
Ibas menegaskan bahwa gizi bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan merupakan bagian dari amanat konstitusi. Ia juga menggarisbawahi bahwa gizi adalah elemen fundamental dalam mencapai keadilan sosial bagi semua rakyat Indonesia.
Dengan mengacu pada Pasal 28H dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Ibas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas gizi yang cukup. Ini merupakan landasan pemikiran dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, di mana keadilan gizi menjadi prioritas.
Ibas yang merupakan lulusan Program Doktor IPB University ini juga menjelaskan pentingnya kesinambungan kebijakan gizi. Dia mencatat bahwa sepanjang pemerintahan, kebijakan ini telah dikembangkan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat dalam hal gizi dan kesehatan.
Pemerintahan sebelumnya telah menekankan penguatan sistem kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat. Ibas mengingatkan bahwa program-program seperti Program Keluarga Harapan (PKH) memainkan peran penting dalam menciptakan fondasi yang kuat untuk pembangunan manusia.
Sementara itu, di era pemerintahan yang baru, pendekatan lebih progresif juga diterapkan. Kebijakan seperti Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia, sekaligus mengakui pentingnya integrasi kebijakan gizi dengan agenda pembangunan manusia.
Pentingnya Gizi dalam Upaya Mewujudkan Keadilan Sosial
Ibas tekanan bahwa setiap kebijakan publik terkait gizi harus dievaluasi dan disempurnakan agar lebih tepat sasaran. Mengutip pemikiran Amartya Sen, Ibas menyatakan bahwa masalah kelaparan sering kali berkaitan dengan ketidakadilan akses dan bukan hanya terkait kekurangan makanan.
Kebijakan yang kurang efektif dapat menghalangi upaya pemerintah dalam membantu rakyatnya. Evaluasi dan pembaruan kebijakan menjadi langkah krusial agar upaya gizi dapat mencapai target yang diinginkan.
Ibas juga menegaskan bahwa MPR memiliki peran penting dalam mempromosikan nilai-nilai keadilan sosial. Sebagai lembaga yang bertugas menjaga konstitusi, MPR juga bertanggung jawab untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan.
Selain itu, Ibas mengajak semua pihak untuk memperkuat komitmen dalam menghadapi tantangan gizi. Fokus pada pemenuhan hak konstitusi terkait gizi serta pengurangan ketimpangan akses menjadi bagian dari agenda utama dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Pembangunan gizi bukan hanya sekadar statistik, melainkan sebuah perjalanan menuju manusia yang sehat dan cerdas. Gizi harus dipandang sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Kontribusi Berbagai Pemangku Kepentingan untuk Pembangunan Gizi
Dalam diskusi pandangan mengenai persoalan gizi di Indonesia, beberapa pakar memberikan kontribusi berharga. Dr. dr. Tan Shot Yen menyampaikan bahwa pola konsumsi dan literasi gizi keluarga sangat mempengaruhi keadaan gizi masyarakat.
Dia juga menyoroti pentingnya kembali pada pangan lokal yang beragam dan berkualitas. Mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-proses juga menjadi titik penting dalam perbaikan pola makan masyarakat.
Prof. Evy Damayanti mengingatkan akan keamanan pangan sebagai bagian dari program yang dilaksanakan. Pengawasan terhadap mutu pangan dan rantai pasok harus menjadi prioritas dalam menjaga kualitas makanan yang diproduksi dan dikonsumsi masyarakat.
Pakar lain, Anugrah Novianti, menekankan pentingnya ketepatan sasaran program gizi, terutama untuk kelompok lansia. Mencontoh praktek di Amerika Serikat, ia mengusulkan agar program gizi difokuskan pada kelompok yang paling membutuhkan.
Sementara itu, Gia Pratama Putai menyerukan pentingnya peran generasi muda dalam isu gizi. Pendekatan yang kreatif dan relevan bagi anak muda dapat membantu menyampaikan pesan penting mengenai kesehatan dan gizi secara efektif.
Strategi untuk Mengatasi Isu Gizi yang Beragam di Indonesia
Dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat, Dr. Rita Ramayulis menekankan pentingnya membatasi konsumsi gula dan garam. Hal ini dilakukan agar penyakit tidak menular dapat dicegah dan kesehatan masyarakat dapat terus terjaga.
Dia juga mengajak semua pihak untuk mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang mengedepankan pola makan sehat. Gizi seimbang dan konsumsi buah-buahan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Para anggota DPR RI juga turut ambil bagian dalam diskusi ini dengan berbagai masukan. Marwan Cik Asan menyoroti kesinambungan kebijakan anggaran agar dapat menjangkau kelompok yang rentan serta menjaga keberlanjutan program gizi.
Tutik Kusumawardhani menyampaikan pentingnya pendekatan berbasis data dalam pelaksanaan program. Keterlibatan tenaga kesehatan dan komunitas lokal sangat diperlukan agar kebijakan dapat diterima dan diimplementasikan dengan baik.
Lucy Kurniasari menekankan peran sentral keluarga dalam keberhasilan program gizi nasional. Khususnya peran ibu menjadi krusial untuk membawa perubahan yang diinginkan dalam pola makan keluarga.


