www.indofakta.id – Bank Indonesia (BI) semakin optimis bahwa nilai tukar rupiah akan mampu menjaga stabilitasnya di masa mendatang. Keyakinan ini berasal dari komitmen kuat yang ditunjukkan oleh bank sentral dalam menjaga pasar keuangan di tengah ketidakpastian global yang menggelayuti berbagai negara.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa stabilitas rupiah didukung tidak hanya oleh intervensi yang konsisten, tetapi juga oleh fundamental ekonomi Indonesia yang menunjukkan kinerja yang solid. Hal ini terlihat dari inflasi yang terjaga, prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah, dan tingkat imbal hasil aset domestik yang menarik minat investor baik lokal maupun internasional.
“Kami di Bank Indonesia terus memperkuat langkah-langkah kebijakan stabilisasi di tengah tingginya ketidakpastian di pasar global,” tegas Perry. Pembicaraan ini diungkapkannya dalam sebuah konferensi pers setelah Rapat Dewan Gubernur yang diadakan pada bulan Oktober 2025, di mana langkah-langkah intervensi yang dilakukan mencakup pasar spot dan off-shore serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Faktor-faktor Pendukung Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah mencatatkan posisi yang cukup stabil, terpantau di level Rp16.585 per dolar AS hingga 21 Oktober 2025. Angka ini mencerminkan penguatan sebesar 0,45 persen secara point-to-point jika dibandingkan dengan posisi di akhir bulan September sebelumnya.
Perry juga mencatat bahwa pada bulan September 2025, rupiah mengalami pelemahan sebesar 1,05 persen dibandingkan bulan Agustus. Pelemahan ini sebagian dipicu oleh ketidakpastian yang melanda pasar global serta pergerakan dolar AS yang cukup signifikan.
Namun, strategi stabilisasi yang diterapkan oleh BI berhasil menahan laju pelemahan tersebut dan mendorong penguatan rupiah pada bulan berikutnya. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil memang berdampak positif terhadap nilai tukar.
Kebijakan Intervensi Bank Indonesia untuk Stabilitas Kurs
Untuk memastikan stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi strategis yang mencakup berbagai langkah. Transaksi di pasar spot, intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), baik di luar negeri maupun domestik, serta pembelian SBN menjadi beberapa langkah kunci yang diambil.
Perry menyatakan bahwa kebijakan ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dengan langkah-langkah ini, stabilitas rupiah tidak hanya terjaga, tetapi juga likuiditas di pasar keuangan tetap terjaga dan stabil, yang sangat penting untuk kepercayaan para pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.
Data menunjukkan bahwa peningkatan konversi valuta asing (valas) ke rupiah oleh para eksportir telah membantu memperkuat posisi nilai tukar. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang telah diterapkan oleh pemerintah mengangkat suplai valas di dalam negeri.
Peran Ekonomi Makro dalam Menunjang Stabilitas
Keberhasilan BI dalam menjaga stabilitas rupiah tidak terlepas dari sinergi antara kebijakan moneter yang adaptif dan koordinasi yang erat dengan pemerintah. Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat juga berkontribusi besar dalam memastikan bahwa rupiah dapat bertahan di tengah beragam gejolak global.
Dengan berbagai langkah ini, BI percaya bahwa stabilitas nilai tukar rupiah akan terjaga hingga akhir tahun 2025. Kendati risiko dari faktor luar masih mengintai, upaya yang dilakukan bank sentral diharapkan dapat meminimalisir dampaknya.
Secara keseluruhan, BI berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang holistik dan strategis, diharapkan nilai tukar rupiah akan terus mendukung kestabilan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.


